Dari Donggala untuk Dunia

KeGILAan Baru

0 647

Oleh : Abdul Rasyid

KATA gila dalam KBBI bisa bermakna sebagai berikut, a) gangguan jiwa; sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal), b) tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal, c) dan terlalu kurang ajar. Atau Yang secara sederhana sering di artikan sebagai sebuah keadaan yang tidak normal dan tidak seperti kebiasaan umum lainya.

Ke-gila-an yang bersifat personal akan mudah untuk dikenali dan bahkan telah ada dokter serta rumah sakit untuk menangani persoalan tersebut. Namun jika coba ditarik dalam hal yang lebih luas (sosial dan politik) maka definisi ke-gila-an menjadi luas dan seperti mendapat tempat tersendiri di dalam pendefinisiannya. Kegilaan jenis ini bisa menghinggapi siapa saja dalam struktur sosial dan kekuasaan, keduanya saling berkait menghadirkan jenis kegilaan ini.

Jenis kegilaan ini menjadi tontonan baru yang cukup menghibur untuk diamati. Gejalanya begitu nampak, salah satunya yaitu relasi pemimpin dan rakyat saling menghardik secara vulgar. Tontonan ini setidaknya membuat pertanyaan mendasar mengapa bisa demikian?

Relasi Pemimpin dan Rakyat diera digital ini memang telah melahirkan jenis kegilaan baru karena sekat informasi dan pengetahuan sudah tidak berjarak lagi. Hubungan antara pemimpin dan rakyat tidak lagi dilihat sebagai hubungan hirarki (siapa di atas-siapa di bawah, siapa yg lebih tahu dan siapa yang tidak tahu). Melainkan relasi keduanya sudah membaur dan sejajar, kepatutan komunikasi sudah menjadi tidak penting, serta sopan-santun dalam bertutur tidak lagi menjadi patron yang baku.

Inilah mungkin jenis kegilaan baru yang terjadi sebagai konsekuensi hidup di era post-truth saat ini. Era dimana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran sehingga lama kelamaan semua orang menjadi sulit lagi mencari mana informasi yang sebenarnya. Akibatnya kebisingan informasi antara Pemimpin dan Rakyat akan menjadi tontonan jenaka tiap saat dan terus menerus. Saling berebut opini mana yang paling benar akan terus tersajikan tanpa henti.

Sudah saatnya semua berhenti sejenak dari kegilaan jenis ini, dan mau membuka diri dalam dialog yang lebih sehat. Menghabiskan energi dan waktu dalam debat dunia maya hanya akan menambah bobot

kegilaan baru itu. Padahal Sistem telah menyediakan relasi Pemimpin dan Rakyat dalam wadah yang lebih nyata, mengapa tidak menggunakannya secara jujur dan terbuka.

Tapi semuanya berpulang juga dari sang pemimpin itu sendiri yang mau segera siuman dari permainan gila ini. Kasihan rakyat yang terus menerus dijejali tontonan yang tidak penting dan tidak berkorelasi langsung dengan kelangsungan hidupnya. Menghindar dan terus mempertahankan ego akan semakin menjauhkan diri dari relasi yang baik antara Pemimpin dan rakyatnya.

Mungkin saat inilah momentum yang tepat agar semua secara bersama-sama berhenti mengikuti irama kegilaan ini. Menempatkan yang benar pada tempatnya dan berani mengakui bahwa ada yang keliru dan mesti segera diperbaiki tanpa perlu adu gengsi.

Berita Lainnya...

Berikan Komentar Anda...

Alamat email anda tidak akan disiarkan.