Mengapa Harus “Teriak”

0 340

Penulis: Abd. Rasyid (ketua Tim SAKAYA)

“Inilah yang menjadi landasan pertama mengapa Kami (PKS) harus berteriak. Teriak merupakan denotative dari tugas mengingatkan kandidat agar memenuhi janji kepada masyarakat yang memilihnya”

MENJADI salah satu bagian dari proses kemenangan di Pilkada tentu sangatlah menggembirakan karena disamping terlibat secara langsung dalam proses pertarungan juga akan mempermudah proses selanjutnya yaitu bagaimana mengawal pemerintahan setelah meraih kemenangan.

Mengawal pemerintahan dimaksud adalah bagaimana tanggung jawab moral pemenangan harus bisa diwujudkan dan direalisasikan guna membuktikan kepada masyarakat bahwa sang jagoan memang layak memimpin pemerintahan. Proses awal tentu sangat berkaitan erat dengan proses-proses selanjutnya.

Sejak awal PKS Kabupaten Donggala telah membangun komintmen dengan sang Calon (SAKAYA) sehingga secara resmi kelembagaan PKS all out melaksanakan “perintah pemenangan” sekaligus “perintah pengawalan” pasca kemenangan.
Perintah pemenangan tentu tidaklah lagi dibahas disini karena proses pemenangan sudah selesai dan menyisakan cerita tersendiri.

Namun yang akan dibahas adalah “perintah pengawalan” pasca kemenangan. Perintah dimaskud disini tentu berkaitan dengan komitmen PKS setelah berhasil mengantarkan kandidatnya memenangi pertarungan pilkada. Komitmen ini adalah kesepahaman dan kesepakatan antar kandidat bersama partai politik pengusungnya.

Dimana kesepakatan dan kesepahaman yang dibangun bukanlah seperti kesepakatan antar pemakai mobil dan pemilik rental, dimana setelah sampai tujuan maka selesailah hubungan. PKS sebagai partai dakwah berkomitmen bahwa perintah pengawalan pasca kemenangan berhubungan langsung dengan tanggung jawab di dunia dan juga diakhirat. Sehingga segala sumber daya yang dimiliki dikerahkan untuk melaksanakanya.

Dan untuk konteks di pemerintahan Kabupaten Donggala maka PKS memiliki sumber daya di DPRD melalui keterwakilanya dalam Fraksi PKS agar dapat mengawal kemenangan SAKAYA (Kasman-Yasin) agar bisa membuktikan janjinya selama pilkada kemarin. Inilah yang menjadi landasan pertama mengapa Kami (PKS) harus berteriak. Teriak merupakan denotative dari tugas mengingatkan kandidat agar memenuhi janji kepada masyarakat yang memilihnya.

Teriak bukan di narasikan sebagai “perlawanan” karena kami bukanlah lawan dari SAKAYA justru kami juga memiliki SAHAM dari kemenangan SAKAYA. Oleh karena itu dengan mamahami posisi strategis ini, maka seyogyanya seluruh partai pengusung SAKAYA mengambil peran ini sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

Tentu ada yang bertanya mengapa harus berteriak? Toh SAKAYA (Kasman-Yasin) tidak berjarak dengan PKS, apalagi PKS ditunjuk sebagai Ketua Tim Suksesnya, kenapa tidak berbisik saja? Hal ini tentu memiliki jawaban yang runtun dan menghilangkan prasangka terlebih dahulu.

Pasca memperoleh kemenangan ada kalimat yang sangat membanggakan dari Kasman Lassa bahwa “bantulah saya diperiode ini karena saya ingin berubah”. Ini adalah kalimat sederhana dan sangat mendasar karena modal kepemimpinan sebelumnya ternyata menjadi bahan evaluasi untuk menatap optimis pembangunan 5 tahun selanjutnya. Kalimat yang menggugah dan sangat inspiratif bagi seorang yang sudah merasakan jabatan periode pertama dan mengetahui kelemahan dirinya.

Hal inilah yang menjadi penyemangat tersendiri sebagai salah satu bagian dari SAKAYA, rasa optimisme membangun dan untuk meninggalkan kenangan indah periode terakhir Kasman Lassa sebagai Bupati dapat terwujud. Oleh karena itu sebagai mitra yang setara (koalisi), maka PKS menerjemahkan kalimat Bupati tersebut ke dalam 2 (dua) langkah yaitu : pertama kebersamaan dan kedua Saling Mengingatkan (mitra kiritis).

Kebersamaan yang ingin dibangun adalah menjadikan evaluasi pemerintahan sebelumnya sebagai masukan perbaikan di periode ini, dan hal ini tentu ditempuh dengan cara berbisik (karena mudah mengkomunikasikan) dengan syarat keterbukaan informasi dan tidak ada faktor yang disembunyikan. Berbisik adalah symbol kedekatan yang tidak ada jarak antara satu dan lainya.

Sehingga harapanya bahwa problem-problem yang muncul sebagai akibat dari keputusan atau tindakan Bupati sudah dapat diketahui dan diantisipasi. Kita tidak ingin membangun hubungan yang diibaratkan seperti Pemadam Kebakaran, yang hanya dibutuhkan saat ada masalah tiba atau atau untuk sekedar meredam api akibat keputusanya.

Hubungan kebersamaan yang ingin kami bangun adalah loyalitas pada Ide bukan pada orang, karena salah satu aspek perubah yang ingin dirasakan pada periode ini adalah ketenangan bekerja Birokrasi karena mendapatkan kepercayaan penuh pada idenya membangun Donggala bukan pada orangnya.

Dan tujuan akhir dari Hubungan kebersamaan dari model pendekatan ini adalah lahirnya birokrasi-birokrasi yang kreatif dan mengurangi kedekatan Bupati/wakil Bupati dari para penyanjung orang (penjilat). Kemudian langkah yang berikutnya adalah Saling Mengingatkan (Mitra Kritis). Nah model pendekatan ini tentu tidak bisa hanya sekedar berbisik. Ini harus ditempuh dengan cara “teriak” biar gaduh agar kesadaran Pemimpin Daerah selalu tergugah.

Sudah cukup puja-puji semasa proses Pilkada, saatnya pembuktian cerita dengan cara sedikit mengambil jarak agar teriakan sampai dan didengarkan. Model “teriak” yang sedikit berisik ini tentu ditempuh lewat perwakilan PKS di parlemen, karena disamping memang sudah menjadi tugas dan fungsinya juga merupakan pertanggung jawaban atas perintah pengawalan kemenangan SAKAYA.

Justru sangat tidak elok jika kami hanya berdiam diri melihat sepak terjang Bupati/wakil bupati terpilih dalam merancang dan membangun daerah ini. Inilah beeberapa poin sederhana dari sebuah kalimat tanya itu “Mengapa Kami Harus Teriak”.

Jika hati lapang maka teriakan dari teman seperjuangan merupakan tanda cinta dan kasihnya. Namun jika hati dipenuhi angkara maka teriakan itu akan diartikan sebagai permusuhan. Wallahu ‘alam bisshawab. (Dari sudut Lapangan Persido, 29 Juli 2019)

Berita Lainnya...

Berikan Komentar Anda...

Alamat email anda tidak akan disiarkan.