Dari Donggala untuk Dunia

Pelabuhan Yang Kesepian

0 52

Ketika kali pertama saya menginjakan kaki di pelabuhan Donggala, hari sudah mulai senja. Entah mengapa, ada segurat sesak yang menyergap.

Baru saja masuk ke area pelabuhan, saya sudah di sambut bangunan tua bekas kantor bea cukai di sudut kiri pelabuhan itu. Catnya sudah kusam.

Di pelabuhan saya lihat hanya ada perahu nelayan berlabuh.

Juga ada bangunan terminal penumpang. Di belakang kantor bea cukai itu. Tapi kotor dan berdebu. Tak terurus. Di bangun pada periode pertama bupati Donggala, Kasman Lassa.

Tidak ada aktifitas bongkar muat. Hanya ada beberapa nelayan mengisi air tawar ke dalam tendon. Pelabuhan tua yang kesepian. Di kota yang juga kesepian.

Di masa lampau, pelabuhan ini berjaya karena menjadi jalur lalulintas perdagangan dari berbagai bangsa.

Dari kisah yang saya dengar kawasan pelabuhan merupakan kawasan yang tumbuh dinamis. Pelabuhan adalah darah yang memompa jantung perekonomian bagi warga kota Donggala. Dulu.

Dari jejak artefak dan heritage menjadi bukti akan kejayaan pelabuhan ini di masanya. Menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara bernilai tinggi.

Sisa peninggalan masa lalu itu masih bisa saya temui di kawasan pelabuhan dan di bagian lain kota Donggala.

Yang paling terkenal adalah gudang kopra untuk menampung kopra yang akan dikirim ke Makassar.

Gudang itu dikenal dengan nama Coprafonds. Gudang kembar tiga berbentuk slinder. Satu dari tiga gedung itu telah hancur pada peristiwa gempa bumi dan tsunami 28 September 2018.

Dua yang tersisa juga sangat memprihatinkan keadaannya.

Ketika penjajah Belanda menguasai Sulawesi Tengah Tahun 1905, Gubernur Jenderal W. Rooseboom di Batavia, membagi Sulteng menjadi dua wilayah, Afdeeling Poso dan Afdeeling Donggala.

Oleh Belanda, pelabuhan Donggala kemudian dijadikan sebagai pelabuhan niaga dan penumpang.

Kejayaan pelabuhan kota tua ini juga konon tertulis jelas dalam buku karya dua sastrawan besar Indonesia, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka, dan Tetralogi Pulau Buru milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Kedua buku itu menyebut nama Donggala sebagai tempat singgah para pelaut Nusantara dan Mancanegara. Entalah. Itu dulu. Kini pelabuhan itu tenggelam dalam kesepiannya yang paripurna.

Berita Lainnya...

Berikan Komentar Anda...

Alamat email anda tidak akan disiarkan.