Wajah Seorang Guru

0 167

Oleh: Mahfud Al Khaery

DALAM dunia baru saya sebagai seorang pendidik setelah bertahun-tahun dalam dunia ‘dididik’, saya akhirnya bisa bertemu dengan banyak dunia, banyak orang, banyak fisik, banyak wajah, banyak gaya, banyak karakter, banyak keyakinan, dan banyak pula kepercayaan.

Kesemuanya berada dalam satu dunia besar tak lain tak bukan adalah dunia Pendidikan. Mereka, bisa saja terdiri dari para guru dari segala jenjang pendidikan dan daerah, pegawai, kepala-kepala dinas, pejabat-pejabat pendidikan, maupun pemerintah. Dari orang tua atau wali murid, dan tentu saja sampai murid-murid itu sendiri.

Tentu saja, senang bisa mengenal mereka semua, yang selalu menyadarkanku bahwa kini saya memang telah terjun di dunia saya yang ‘baru’, yang memang selalu kurindukan: Praktisi Pendidikan. Menjadi seorang guru, yang insya Allah bisa digugu dan ditiru, karena kalaulah tak bisa ditiru, apa guna jadi seorang guru?.

Dari sinilah saya menemukan cerita-cerita dan momen-momen ajaib yang baru saya dapatkan setelah terjun di dunia penuh ‘keikhlasan dan perjuangan’ ini.

**

Di sekolah kami yang baru ini, jumlah gurunya masih sangat tidak ideal. Tidak sesuai dengan yang diperlukan oleh sekolah, baik karena siswanya yang banyak dan maupun kurikulum yang ada. Minim sekali. Akhirnya banyak guru yang merangkap mata pelajaran, alias lebih dari satu. Apalagi kalau guru tersebut masih Guru Pengabdian (guru honorer), maka akan diberi lebih dari 1 mata pelajaran. Hehe..

Kalau guru PNS ‘alhamdulillah’ masing-masing hanya 1 saja, mungkin karena tuntutan keprofesionalan mereka atau karena untuk memenuhi pesyaratan sertifikasi, yang harus 24 jam dengan satu mata pelajaran. Ironis sih, soalnya mereka lebih pengalaman dari Guru Pengabdian tadi.

Namun kekurangan guru seperti ini bukan cuma masalah di sekolah kami ini, tapi menjadi masalah rata-rata di setiap sekolah, apalagi di desa-desa, mulai dari tingkatan SD, SMP sampai SMA. Tak itu terjadi tak hanya di daerah kami, di daerah lain propinsi lain bahkan mungkin di Indonesia kita kekurangan tenaga pengajar. Guru yang berdedikasi. Walau saya dengar, kalau secara proporsional guru di Indonesia sudah cukup. Tapi, kalau melihat ke daerah-daerah tertentu, termasuk di propinsi kami di Sulawesi Tengah ini gurunya sangat kurang. Kalau di kota-kota besar, biasanya mencukupi semua. Bahkan berlebih.

Yah begitulah, ada ketimpangan jumlah guru di setiap daerah. Tentunya dengan beberapa alasan, terutama SDM dan kualitas pendidikan masyarakatnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah pun dalam hal ini Kementrian Pendidikan atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tentunya tidak tinggal diam dan mereka sudah lama turun tangan bagaimana agar pemerataan guru bisa dilakukan secepatnya agar setiap daerah dan setiap warga negara mendapat pendidikan yang layak sebagai hak yang harus mereka ambil dari negerinya Indonesia. Negeri yang merdeka. Pendidikan yang sama dan kemajuan yang sama.

Salah satu langkah yang diambil adalah pengiriman tenaga guru yang telah lulus PNS untuk ditempatkan di daerah yang sangat kekurangan guru. Selain itu ada  juga istilah guru Dacil (daerah terpencil), walaupun ini statusnya belum menjadi guru PNS, tapi rela dikirim ke berbagai daerah teriosolir utamanya pulau terluar untuk mendidik generasi Indonesia disana. Tentunya dengan gaji yang berbeda dengan guru biasa.

Selain itu tentu saja dengan pembukaan tes CPNS secara berkala oleh pemerintah agar sekolah-sekolah atau daerah-daerah yang kekurangan guru bisa dipenuhi sedikit demi sedikit. Karena tentu saja tidak langsung bisa terpenuhi semua dalam satu waktu, karena memajukan pendidikan Indonesia itu butuh nafas yang besar dan langkah-langkah yang panjang serta perjuangan yang tiada henti.

Jadi, calon-calon guru yang mengikuti tes PNS harus siap-siap dengan resiko ini, mengajar dan bertugas jauh dari kampung halaman, itu semua agar pendidikan Indonesia lebih merata. Mending sih kalau tempat kerjanya dekat dengan daerah kelahirannya atau tempat ia tinggal, tapi bila ditempatkan di tempat nan jauh melampaui ratusan KM jauhnya menempati pos-pos pendidikan di hutan belantara dan pulau-pulau terjauh, duh ‘menderita’ banget. Belum hilang rasa rindu setelah berpisah dengan orang tua kurang lebih 5 tahun selama kuliah, eh harus pisah lagi pas setelah bekerja. Hehe.. resiko ditanggung penumpang.

Untukmu kawan.

Untukmu para kawan guru yang jauh di sana, dimanapun kalian berada, yang kini jauh dengan keluarga dan dekat dengan anak-anak muridmu nun jauh di daerah dan di pedalaman sana, melintasi lembah dan samudera…

Ingin kutitipkan salam rindu padamu, salam perjuangan, salam kemenangan, salam kemerdekaan. Salam seorang kawan yang berdiri berjuang melawan kebodohan, ini otak (dan otot) yang kita beri untuk nusantara. Dimanapun dia, apapun pulaunya, apapun kampungnya, apapun kotanya, kita sedang berjuang untuk negeri kita.

Jangan khawatir kawan, anda dan saya adalah satu tangan yang terus tergenggam, mengenggam Indonesia lalu membawanya berlari menuju kesejahteraan, menuju kemenangan. Jangan ragu, inilah adalah perjuangan kita yang harus terus maju.

Salam rinduku padamu, seperti kamu merindukan keluarga, merindukan kawan lama, merindukan kampung halaman.

Keluargamu disana, kawanmu disana, dan kampung halamanmu disana, mereka yang sedang kau didik itu.

Dimanapun kita berada, langit kita tetap Indonesia dan bumi kita tetap Pertiwi. Berbahagialah, karena kita adalah bagian dari rencana masa depan Indonesia yang lebih baik…

Itu bukan janji mereka, para punggawa yang duduk di kursi empuk, ini janji kita untuk negeri kita….

Indonesia!

Ah, telah lepas sesak ini mengirimkan kata rindu itu kawan, siapapun kamu wahai sang guru. Semoga kamu baik saja disana, dimanapun kamu berada… Salam hangatku sekali lagi padamu.

Sebagai negara yang beraneka ragam, baik suku, budaya, dan agama tentu saja pemerataan ini tidak akan mengenal itu semua, karena kita adalah satu Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Jadi, kita apapun sukunya dan agamanya akan siap ditempatkan dimana saja untuk mengabdi dan mengajar, sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan pendidikan setempat.

Begitulah, sehingga tidak heran bila di sekolah kami ini yang merupakan salah satu sekolah baru di daerah ini yang juga merupakan sekolah negeri, juga pernah dan sampai sekarang diajar oleh beberapa guru yang bukan mayoritas di tempat kami, yaitu non muslim. Saya mengatakan non muslim, karena di daerah kami, Kabupaten Donggala ini adalah mayoritas muslim.

Beberapa guru tersebut ada yang berasal dari 1 propinsi namun dengan kabupaten yang berbeda, ada juga dari propinsi lain utamanya Sulawesi Selatan, khususnya dari daerah Tana Toraja. Mereka berimigrasi ke daerah ini dan ke daerah-daerah lain karena adanya kebutuhan pendidikan dan pekerjaan. Mereka pun harus sudah siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi sebagai orang asing di negeri orang lain. Yang berbeda dari negeri semula, baik agama, budaya, bahasa, dan adat istiadatnya.

Menurut sejarah sekolah kami, sejak awal didirikannya pernah ada 3 orang non Muslim yang mengajar di sekolah ini. Sekarang, waktu saya bergabung disini tinggal 1 orang yang tersisa. Guru tersebut perempuan, dan nampaknya belum ada tanda-tanda bahwa beliau akan mutasi atau dimutasikan ke tempat lain. Beliau adalah seorang ibu dengan 2 anak perempuan yang hidup bersamanya. Suaminya adalah seorang pendeta yang sampai hari ini hidup terpisah karena mempunyai tugas di daerah lain. Jadi, mereka tinggal berpisah dan hanya ketemu ketika liburan tiba, bahkan kadang hanya bertemu sekali setahun, yaitu pas libur Natal aja.

Jauh dari keluarga, hidup dengan 2 anak yang masih kecil, dan sendiri diantara kumpulan orang muslim adalah sebuah tantangan berat, yang tentunya susah dijalani. Begitulah mungkin perkiraan saya sehingga kedua teman beliau yang lain yang non muslim tidak bisa bertahan lama di sekolah ini. Bukan karena tekanan perbedaan budaya dan agama dari masyarakat setempat, tapi juga karena bisa jadi risih karena keberadaanya sebagai minoritas.

Namun, ibu guru kita ini tetap bertahan mengajar di sekolah ini. Lalu, apa yang membuat guru kita yang satu ini bisa bertahan selama itu dan enjoy mengajar di kampung orang lain?

Hemat saya, jawabannya simpel saja namun sangat berat dalam pengamalan. Tiada lain dan tidak bukan kecuali karena sebuah Pengabdian. Pengabdian untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Hanya itu yang bisa membuat kita bertahan. Disini, kita hadir bukan sebagai pribadi biasa atau sedang berada dalam keperluan pekerjaaan, dagang dan semacamnya, tapi disini kita hadir sebagai guru; mengajarkan anak-anak negeri apa yang tidak diketahuinya dan apa yang ingin diketahuinya.

Tak masalah dimanapun itu, di belahan bumi manapun kita berada. Di Selatan, Utara, Barat Atau Timur, yang penting itu Indonesia. Apalagi, beliau ini masih dari satu pulau yang sama yakni Sulawesi, pulau dengan keragaman agama dan budaya yang kental.

Saya sebagai teman seperjuangan tentu saja bangga kepada sosok ibu guru yang satu ini. Selain ramah, beliau juga mudah bersosialisasi dengan orang sekitar. Membangun pondok-pondok kecil di sekitar sekolag sekedar untuk ditempati hidup bersama 2 anaknya yang masih SD beranjak SMP adalah bentuk kesungguhan bahwa ia akan berada lama mengabdi di kampung kami. Ia tak segan bergabung dengan masyarakat sekitar bila ada keramaian atau ada kegiatan-kegiatan.

Satu hal lagi, diantara guru yang lain beliau adalah guru yang selalu siap sedia untuk mengajar. Segala perlengkapan pembelajaran dia punyai dan sudah disiapkan dengan baik. Dia juga paling cepat dalam hal mengurus segala sesuatu, terutama dalam hal keperluan sekolah dan dirinya sebagai guru. Contohnya, bila datang pengawas sekolah memeriksa keadaan kami di sekolah, beliau yang paling siap menyerahkan dan memperlihatkan segala persiapan belajar mengajarnya.

Bagaimana dengan guru-guru yang lain? Hanya bisa mendongo’ bagaikan hilang ingatan, hehe… Ya, termasuk saya juga. Hehe..

Sebagai seorang guru yang hidup sendiri, saya pun sadar bahwa tentu saja ia akan mempunyai sedikit kecanggungan untuk menyesuaikan diri dengan penduduk dan suasana sekitar. Perbedaan adat dan budaya juga bisa membuat hal itu semakin sulit. Makanya, saya tak heran bila sebagai satu-satunya guru non muslim, dia masih kelihatan protektif dengan keadaan sekitar. Beliau agak sedikit sentimen. Sentimen yang saya sangat mengerti dan masih bisa saya maklumi, walau sebagian guru yang lain tidak siap akan hal itu.

Karena sikap beliau yang sedikit protektif, maka biasanya muncul sedikit benturan dengan guru yang lain meskipun tidak terlalu besar. Benturan-benturan itu pun hanya bersifat kecil dan cepat selesai. Terus kebanyakan lebih bersifat kesalahpahaman dalam mengajar. Bukankah itu wajar dalam sebuah tim?

Semua hanya perlu pemahaman dan koreksi diri, setelah semuanya itu ada dalam diri seorang guru maka bersiaplah untuk menjadi sebuah TIM pengajar yang hebat. Karena semua guru di sekolah adalah tim, tim untuk mempersiapkan generasi yang pintar, cerdas dan berakhlak mulia. Bukankah itu tujuan dari Pendidikan Nasional kita? Kalau salah satu dari anggota tim tak sejalan dengan kita, maka pastinya tim itu akan lambat dalam bekerja dan mempersiapkan anak didik yang baik.

Alhamdulillah, dengan perjalanan waktu kedewasaan para guru semakin teruji dan kemudian bisa selalu bersatu mengusir segala perbedaan dan menemukan segala persamaan untuk mendidik siswa-siswi generasi bangsa masa depan.

Itulah salah satu keajaiban yang saya dapatkan di sekolah ini. Wajah seorang guru, wajah yang penuh ketangguhan dan tanggung jawab. Belum wajah-wajah guru yang lain. Baru satu wajah, namun sudah menyimpan banyak makna. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang membuat saya selalu rindu dengan mengajar. Selalu rindu untuk ke sekolah, dan selalu rindu untuk bertemu dengan teman-teman seperjuangan. Sensasi dan rasanya itu beda. Dan itu semua itu bisa didapatkan dalam keseriusan dan keikhlasan kita dalam mengajar.

Dan saya tahu, selama saya, kamu, dan kita masih disini di jalan pendidikan ini, maka pengalaman-pengalaman dan momen-momen berharga itu akan selalu hadir, silih berganti, mewarnai perjalanan hidup kita. Dan wajah-wajah itu tidak akan berubah, dia masih sama dengan yang dulu.

Lalu, wajah siapakah yang berubah?

Yang berubah adalah wajah murid-murid kita. Bukankah sering kita dengarkan celoteh mereka yang sudah beranjak dewasa, ‘lihat tuh wajah bapak guru kita, masih sama saat kita diajar dulu, tidak berubah, padahal kita sudah besar dan sudah punya anak’. Hehe (*)

So, bravo guru-guru Indonesia. Jadilah GURU dimanapun kita berada!

isi tulisan menjadi tanggungjawab penulis.

*Tulisan ini adalah tulisan lama, sekitar tahun 2014 lalu, di SMP Negeri 5 Sojol. Bersama guru-guru yang hebat, salah satunya adalah inspirasi dari tulisan ini, yaitu ibu Ruth Rampun, S.Sos, guru IPS kami yang baru saja berpulang ke haribaan Tuhan Yang Esa beberapa hari yg lalu di bulan Agustus 2019 ini. Semoga segala jasamu dan keikhlasanmu mengajar murid-murid itu menjadi cambuk yang besar bagi kesuksesan mereka kelak. Selamat jalan bu guru, rest in peace!

 

Berita Lainnya...

Berikan Komentar Anda...

Alamat email anda tidak akan disiarkan.